plus minus gleich

Departemen Konservasi

Departemen Ilmu Konservasi Gigi

Departemen ini bertanggung jawab atas pencapaian kompetensi akademik, klinik profesi dan spesifik di bidang konservasi gigi. Kegiatan pembelajaran mencakup kegiatan praklinik dengan cara belajar aktif melalui kelompok belajar dan metode skills lab, dengan penekanan pada ilmu pengetahuan dan keterampilan ilmu konservasi gigi sebagai prasyarat tahap klinik akademik dan profesi dokter gigi serta dokter gigi spesialis. Kegiatan klinik meliputi diagnosis klinik, rencana perawatan untuk penyakit-penyakit pada jaringan keras gigi, pulpa dan jaringan lunak periapeks, dengan lingkup pendidikan meliputi program sarjana maupun pascasarjana FKG UI.

A. Sejarah Perkembangan Pendidikan Spesialis Ilmu Konservasi Gigi

Pada tahun 1982 FKGUI berinisiatif membuka 7 program pendidikan dokter gigi spesialis yang pada waktu itu dinamai Pendidikan Lanjutan Lengkap melalui SK Rektor Prof.Dr. Noegroho Notosoesanto dan Dekan FKGUI Prof. Siti Woeryan Prayitno, drg., SKM., SpPerio(K)., MDSc., PhD. Setelah melalui berbagai pertemuan antara bidang kedokteran gigi, kedokteran, kesehatan masyarakat, dan PDGI di bawah koordinasi Consorsium of Health Sciences, program pendidikan dokter gigi spesialis ini kemudian diusulkan ke DIKTI. Upaya tersebut menghasilkan SK Dirjen DIKTI no. 139 th 1984 tentang 7 program studi pendidikan dokter gigi spesialis yang salah satunya adalah pendidikan dokter gigi spesialis konservasi gigi. Selanjutnya melalui SK 141 th 1982 telah ditunjuk FKG UI, FKG Unair, FKG Unpad dan FKG UGM sebagai pusat pendidikan dokter gigi spesialis.

Dengan dibukanya program pendidikan spesialis tersebut, maka selanjutnya didirikan pula organisasi keahlian yang salah satunya adalah IKORGI atau Ikatan Konservasi Gigi Indonesia yang dideklarasikan pada tahun 1978 dengan nama IPKORGI (Ikatan Peminat Konservasi Gigi Indonesia) yang diketuai oleh Prof. R.M. Garjito drg. dengan anggota dokter gigi spesialis konservasi gigi dan dokter gigi peminat konservasi gigi. Mengingat keanggotaan ikatan keahlian seharusnya terdiri dari spesialis, maka organisasi ini diubah menjadi IKORGI (Ikatan Konservasi Gigi Indonesia).

Dengan diberlakukannya UU Praktik no. 29 th 2002, IKORGI kemudian membentuk Kolegium Konservasi Gigi sebagai pengampu serta melakukan perubahan AD/ART nya dengan membagi perkembangan ilmu Konservasi Gigi ke arah Kariologi klinik, Endodonsia dan Teknologi Restorasi.

Peningkatan kebutuhan masyarakat akan pelayanan spesialisasi konservasi gigi yang lebih khusus dan rumit, tuntutan perkembangan profesi di bidang sub spesialisasi konservasi gigi, serta perkembangan ilmu dan teknologi baik akademik maupun profesi secara internasional turut memengaruhi perkembangan ilmu Konservasi Gigi di Indonesia. Saat ini perhimpunan internasional Konservasi Gigi yang ada, hanya pada perhimpunan bagi pendidik Ilmu Konservasi Gigi saja, yaitu di Inggris dan Hongkong.

Perhimpunan yang ada secara internasional sudah terpecah menjadi lebih khusus dan sempit namun mendalam yaitu: 1). Asosiasi Endodontist (Asia Pacific of Endodontic Association (APEC); International Federation Endodontics Association (IFEA); European Society of Endodontist (ESE)); 2). Asosiasi Esthetic dentistry, dan 3). Asosiasi Cariologist.

Dalam upaya penyesuaian diri terhadap perubahan ini, IKORGI kemudian membagi ruang lingkupnya menjadi tiga fragmen yaitu Kariologi Klinik, Endodonsia, dan Teknologi Restorasi. Fragmentasi ini kemudian dituangkan melalui perubahan AD/ART pada tahun 2002 sebagai pedoman dalam kegiatan pendidikan, penelitian dan pelayanan asuhan. Dalam hal memberikan kredibilitas dan keabsahan dari program pendidikan spesialis ini, maka pada 13 September 2006 oleh Kolegium IKORGI telah dikukuhkan 51 dokter gigi spesialis konservasi gigi konsultan untuk setiap fragmentasi pada staf pengajar dari ke empat FKG di atas ditambah dengan FKG USU dan USAKTI.

Pengakuan keahlian subpesialisasi ini merupakan titik tolak keberadaan fragmentasi Konservasi Gigi yang dibutuhkan dalam perkembangan dan penerapan ilmu, pada kegiatan pendidikan, penelitian  dan pelayanan di Indonesia.

Melalui ketiga fragmentasi tersebut diharapkan penanggulangan (preventif dan kuratif) masalah klinik yang makin rumit di bidang Kariologi klinik, Endodonsi dan Teknologi restorasi dapat ditingkatkan melalui perkembangan biologi molekuler dan nano teknologi pada Ilmu Kedokteran Gigi dasar seperti Biologi Oral, Ilmu Material Kedokteran Gigi dan Ilmu Kedokteran Gigi lainnya, termasuk ilmu Kedokteran.  Fragmentasi Ilmu Konservasi Gigi ini diuraikan berdasarkan Ontologi, Aksiologi dan Epistemologi keilmuan masing-masing fragmen tersebut.

B. Visi

Menghasilkan Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi berwawasan Internasional yang mampu mengembangkan ilmu dan menggunakan teknologi mutakhir berdasarkan pemanfaatan bukti yang sahih dalam    penatalaksanaan pasien.

C. Misi

  1. Menghasilkan Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi yang dapat melakukan inovasi penanggulangan masalah konservasi gigi berdasarkan bukti ilmiah.
  2. Menghasilkan Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi yang berwawasan Internasional. 
  3. Menghasilkan Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi dengan kemampuan mengembangkan akademik profesional secara terus menerus.

Ketua Departemen :
Dr. Endang Suprastiwi, drg., SpKG (K)

Sekretaris Departemen :
Munyati Usman, drg. SpKG(K)

Staf Departemen :

  1. Prof. Dr. S.M. Soerono Akbar, drg. SpKG (K)
  2. Prof. Dr. Safrida Hoesin, drg., SpKG (K)
  3. Prof. Dr. Narlan Sumawinata, drg. SpKG (K)
  4. Gatot Sutrisno, drg., SpKG (K)
  5. Bambang Nursasongko, drg. SpKG(K)
  6. Daru Indrawati, drg., SpKG (K)
  7. Dr. Ratna Meidyawati, drg. SpKG(K)
  8. Nilakesuma Djauharie, drg.,MPH., SpKG (K)
  9. Dr. Dewi Anggraini Margono, drg., SpKG(K)
  10. Kamizar, drg., SpKG (K)
  11. Dr. Anggraeni, drg., SpKG
  12. Dewa Ayu NPA, drg., SpKG
  13. Gatot Sutrisno, drg. SpKG(K)
  14. Dini Asrianti, drg. SpKG

Departemen Ilmu Konservasi Gigi:

Jl. Salemba Raya No. 4 Jakarta Pusat 10430

Gedung B, Lantai 3

Tlp/Fax : +62213913413

Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 


E-mail Print PDF
Last Updated on Thursday, September 12 2013